Pemerikasaan logam berat Timbal (Pb ) dan Arsen ( Ar ) pada Makanan
Mata kuliah : PMM - A
Dosen : Khiki Purnawati Kasim.
SST., M.Kes.
LAPORAN PEMERIKSAAN LOGAM BERAT TIMBAL ( Pb ) dan ARSEN
( Ar ) PADA MAKANAN,BIOTA LAUT ( Udang )
OLEH:
MUAMMAR
PO.71.4.221.15.1.024
DIV/A
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
KESEHATAN
LINGKUNGAN
2017
PEMERIKSAAN
TIMBAL (Pb)
DAN ARSEN (Ar)
A.
DASAR
TEORI
Logam berat adalah unsur logam yang mempunyai massa jenis lebih
besar dari 5 g/cm3, antara lain Cd, Hg, Pb, Zn, dan Ni. Logam
berat Cd, Hg, dan Pb dinamakan sebagai logam non esensial dan pada tingkat
tertentu menjadi logam beracun bagi makhluk hidup (Subowo dkk, 1999).
Logam berat ialah unsur logam dengan berat molekul tinggi. Dalam kadar
rendah logam berat pada umumnya sudah beracun bagi tumbuhan dan hewan, termasuk
manusia. Termasuk logam berat yang sering mencemari habitat ialah Hg, Cr, Cd,
As, dan Pb (Am.geol. Inst., 1976).
Tingginya kandungan logam berat di suatu perairan dapat menyebabkan
kontaminasi, akumulasi bahkan pencemaran terhadap lingkungan seperti biota,
sedimen, air dan sebagainya (Lu,1995). Berdasarkan kegunaannya, logam berat
dapat dibedakan atas dua golongan, yaitu (Laws, 1981):
Menurut Hutagalung (1984) bahwa senyawa logam berat banyak
digunakan untuk kegiatan industri sebagai bahan baku, katalisator, biosida
maupun sebagai additive. Limbah yang mengandung logam berat ini akan
terbawa oleh sungai dan karenanya limbah industri merupakan sumber pencemar
logam berat yang potensial bagi pencemaran laut. Dalam perairan, logam-logam
ditemukan dalam bentuk (Hamidah, 1980):
1. Terlarut, yaitu ion logam bebas air dan logam yang membentuk kompleks dengan senyawa organik dan anorganik.
1. Terlarut, yaitu ion logam bebas air dan logam yang membentuk kompleks dengan senyawa organik dan anorganik.
2. Tidak terlarut,
terdiri dari partikel yang berbentuk koloid dan senyawa kompleks metal yang
terabsorbsi pada zat tersuspensi.
Logam berat diketahui
dapat mengumpul di dalam tubuh organisme, dan tetap tinggal dalam tubuh dalam
jangka waktu lama sebagai racun yang terakumulasi (Fardiaz,1992; Palar, 1994).
Kondisi perairan yang terkontaminasi oleh berbagai macam logam akan berpengaruh
nyata terhadap ekosistem perairan baik perairan darat maupun perairan laut.
Arsen (As) merupakan bahan kimia beracun, yang secara alami ada di alam. Selain dapat ditemukan di udara, air maupun makanan, arsen juga dapat ditemukan di industri seperti industri pestisida, proses pengecoran logam maupun pusat tenaga geotermal. Elemen yang mengandung arsen dalam jumlah sedikit atau komponen arsen organik (biasanya ditemukan pada produk laut seperti ikan laut) biasanya tidak beracun (tidak toksik).
Arsen dapat dalam bentuk in organik bervalensi tiga dan bervalensi lima. Bentuk in organik arsen bervalensi tiga adalah arsenik trioksid, sodium arsenik, dan arsenik triklorida, sedangkan bentuk in organik arsen bervalensi lima adalah arsenik pentosida, asam arsenik, dan arsenat (Pb arsenat, Ca arsenat). Arsen bervalensi tiga (trioksid) merupakan bahan kimia yang cukup potensial untuk menimbulkan terjadinya keracunan akut. Logam arsen sebenarnya tidak beracun hanya saja bila dalam jumlah yang banyak dapat menjadi beracun. Hal ini dipengaruhi oleh respirasi seluler dengan mengkombinasikan dengan bebrapa Sulphydril dari enzim mitokondrial, oksidasi piruvat dan phosfatase tertentu. Arsen memiliki target pada endotel pembuluh darah, terhitung banyaknya lesi yang disebabkan oleh meningkatnya permeabilitas pembuluh darah, edema jaringan dan hemorrhagi, pada saluran pencernaan. Keracunan arsen dapat timbul melalui saluran cerna yang berasal dari oksida arsen, bubuk putih tidak berasa dari cuprum, sodium dan potassium arsenic, arsen dari calcium lead, arsen sulfide, gas arsen (industri).
Arsen (As) merupakan bahan kimia beracun, yang secara alami ada di alam. Selain dapat ditemukan di udara, air maupun makanan, arsen juga dapat ditemukan di industri seperti industri pestisida, proses pengecoran logam maupun pusat tenaga geotermal. Elemen yang mengandung arsen dalam jumlah sedikit atau komponen arsen organik (biasanya ditemukan pada produk laut seperti ikan laut) biasanya tidak beracun (tidak toksik).
Arsen dapat dalam bentuk in organik bervalensi tiga dan bervalensi lima. Bentuk in organik arsen bervalensi tiga adalah arsenik trioksid, sodium arsenik, dan arsenik triklorida, sedangkan bentuk in organik arsen bervalensi lima adalah arsenik pentosida, asam arsenik, dan arsenat (Pb arsenat, Ca arsenat). Arsen bervalensi tiga (trioksid) merupakan bahan kimia yang cukup potensial untuk menimbulkan terjadinya keracunan akut. Logam arsen sebenarnya tidak beracun hanya saja bila dalam jumlah yang banyak dapat menjadi beracun. Hal ini dipengaruhi oleh respirasi seluler dengan mengkombinasikan dengan bebrapa Sulphydril dari enzim mitokondrial, oksidasi piruvat dan phosfatase tertentu. Arsen memiliki target pada endotel pembuluh darah, terhitung banyaknya lesi yang disebabkan oleh meningkatnya permeabilitas pembuluh darah, edema jaringan dan hemorrhagi, pada saluran pencernaan. Keracunan arsen dapat timbul melalui saluran cerna yang berasal dari oksida arsen, bubuk putih tidak berasa dari cuprum, sodium dan potassium arsenic, arsen dari calcium lead, arsen sulfide, gas arsen (industri).
Arsen (As) atau sering disebut arsenik
adalah suatu zat kimia yang ditemukan sekitar abad-13. Sebagian besar arsen di
alam merupakan bentuk senyawa dasar yang berupa substansi inorganik. Arsen
inorganik dapat larut dalam air atau berbentuk gas dan terpapar pada manusia.
Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (1975), arsen
inorganik bertanggung jawab terhadap berbagai gangguan kesehatan kronis,
terutama kanker. Arsen juga dapat merusak ginjal dan bersifat racun yang sangat
kuat.
Timbal
adalah logam yang mencemari air, logam timbal ini berasal dari berbagai sumber,
seperti rembesan timbal dari sampah kaleng yang mengandung timbal, cat yang
mengandung timbal, bahan bakar bertimbal, pestisida, dan dari korosi pipa-pipa
yang mengandung timbal. Logam timbal dengan konsentrasi > 15 mg/ dl dalam
darah dianggap berbahaya bagi kesehatan. Pada orang hamil, keracunan timbal
dapat menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, atau kematian janin. Pada
anak-anak, timbal dapat menyebabkan kecacatan mental dan gangguan fisik. Pada
orang dewasa, keracunan timbal meningkatkan resiko terkena hipertensi (tekanan
darah tinggi).
Logam timbal (Pb) merupakan logam yang sangat populer dan banyak dikenal oleh masyarakat. Hal ini disebabkan oleh banyaknya Pb yang digunakan di industri nonpangan dan paling banyak menimbulkan keracunan pada makhluk hidup. Pb adalah sejenis logam yang lunak dan berwarna cokelat kehitaman, serta mudah dimurnikan dari pertambangan. Dalam pertambangan, logam ini berbentuk sulfida logam (PbS), yang sering disebut galena. Senyawa ini banyak ditemukan dalam pertambangan di seluruh dunia. Bahaya yang ditimbulkan oleh penggunaan Pb ini adalah sering menyebabkan keracunan.
Menurut Darmono (1995), Pb mempunyai sifat bertitik lebur rendah, mudah dibentuk, mempunyai sifat kimia yang aktif, sehingga dapat digunakan untuk melapisi logam untuk mencegah perkaratan. Bila dicampur dengan logam lain, membentuk logam campuran yang lebih bagus daripada logam murninya, mempunyai kepadatan melebihi logam lain. Logam Pb banyak digunakan pada industri baterai, kabel, cat (sebagai zat pewarna), penyepuhan, pestisida, dan yang paling banyak digunakan sebagai zat antiletup pada bensin. Pb juga digunakan sebagai zat penyusun patri atau solder dan sebagai formulasi penyambung pipa yang mengakibatkan air untuk rumah tangga mempunyai banyak kemungkinan kontak dengan Pb (Saeni, 1997). Logam Pb dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, makanan, dan minuman. Logam Pb tidak dibutuhkan oleh manusia, sehingga bila makanan tercemar oleh logam tersebut, tubuh akan mengeluarkannya sebagian. Sisanya akan terakumulasi pada bagian tubuh tertentu seperti ginjal, hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut.
Logam timbal (Pb) merupakan logam yang sangat populer dan banyak dikenal oleh masyarakat. Hal ini disebabkan oleh banyaknya Pb yang digunakan di industri nonpangan dan paling banyak menimbulkan keracunan pada makhluk hidup. Pb adalah sejenis logam yang lunak dan berwarna cokelat kehitaman, serta mudah dimurnikan dari pertambangan. Dalam pertambangan, logam ini berbentuk sulfida logam (PbS), yang sering disebut galena. Senyawa ini banyak ditemukan dalam pertambangan di seluruh dunia. Bahaya yang ditimbulkan oleh penggunaan Pb ini adalah sering menyebabkan keracunan.
Menurut Darmono (1995), Pb mempunyai sifat bertitik lebur rendah, mudah dibentuk, mempunyai sifat kimia yang aktif, sehingga dapat digunakan untuk melapisi logam untuk mencegah perkaratan. Bila dicampur dengan logam lain, membentuk logam campuran yang lebih bagus daripada logam murninya, mempunyai kepadatan melebihi logam lain. Logam Pb banyak digunakan pada industri baterai, kabel, cat (sebagai zat pewarna), penyepuhan, pestisida, dan yang paling banyak digunakan sebagai zat antiletup pada bensin. Pb juga digunakan sebagai zat penyusun patri atau solder dan sebagai formulasi penyambung pipa yang mengakibatkan air untuk rumah tangga mempunyai banyak kemungkinan kontak dengan Pb (Saeni, 1997). Logam Pb dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, makanan, dan minuman. Logam Pb tidak dibutuhkan oleh manusia, sehingga bila makanan tercemar oleh logam tersebut, tubuh akan mengeluarkannya sebagian. Sisanya akan terakumulasi pada bagian tubuh tertentu seperti ginjal, hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut.
A.
TUJUAN:
1. Untuk
mengetahui kadar timbal yang terdapat pada kue pukis banta-bantaeng.
2. Untuk
mengetahui kadar arsen yang terdapat pada udang pasar pa’baeng-baeng.
B.
ALAT
DAN BAHAN:
·
Alat:
1. Timbangan
2. Labu
erlenmeyer
3. Gelas
ukur 50 ml
4. Spectroquant
5. Kuvet
6. Lumpang
dan alu
7. Botol
arsenic test
8. Gelas
ukur 10 ml
9. Botol
sampel
·
Bahan:
1. Cairan
pb
2. AS1
& AS2
3. Aquadest
4. Sampel
5. Kertas
strip arsen
D.
PROSEDUR
KERJA:
1. Timbang
sampel udang dan pukis sebanyak 10 gr.
2. Setelah
itu masukkan masing-masing sampel ke dalam lumpang dan haluskan sambil
tambahkan 50 ml aquadest sedikit demi sedikit.
3. Setelah
ke dua sampel hancur masukkan masing-masing sampel ke dalam gelas ukur ukuran
80 ml sampai garis 50 ml.
4. Lalu
pindahkan lagi ke dua sampel ke dalam gelas sampel ukuran 10 ml sampai garis 5
ml.
5. Sampel
pukis yang telah dipindahkan ke dalam gelas sampel kita ukur kadar timbalnya
(pb), sebelum mengukur, kita tambahkan cairan reagen sebanyak 3 tetes,
selanjutnya pindahkan sampel ke dalam kuvet dan pastikan kuvet kering, ukur
kadar timbalnya menggunakan Spectroquant, tunggu dan catat hasilnya.
6. Setelah
mengukur kadar timbal (pb) sampel pukis, selanjutnya kita ukur kadar arsen (Ar)
sampel udang.
7. Masukkan
sampel udang sebanyak 5 ml ke dalam gelas sampel 10 ml, selanjutnya pindahkan
ke dalam botol Arsenic Test dan tambahkan cairan AS1 dan AS2 masing-masing 1 ml
ke dalam sampel udang dan homogenkan setelah itu masukkan kertas Strip Arsen
dan tunggu selama 20 menit, tunggu dan catat hasilnya.
E.
METODE
PRAKTIKUM
Spektrofotometri merupakan suatu
metode analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh
suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan mengguankan
monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detector Fototube. Dalam analisis
cara spektrofotometri terdapat tiga daerah panjang gelombang elektromagnetik
yang digunakan, yaitu daerah UV (200-380 nm), daerah Visible (380-700 nm),
daerah Inframerah (700-3000 nm).
Prinsip kerja spektrofotometri
berdasarkan hokum Lambert-Beer, bila cahaya monokromatik (I0),melalui suatu
media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian
dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It). Transmitans adalah
perbandingan intensitas cahaya yang di transmisikan ketika melewati sampel (It)
dengan intensitas cahaya mula-mula sebelum melewati sampel (Io). Persyaratan
hokum Lambert-Beer antara lain : Radiasi yang digunakan harus monokromatik,
rnergi radiasi yang di absorpsi oleh sampel tidak menimbulkan reaksi kimia,
sampel (larutan) yang mengabsorpsi harus homogeny, tidak terjadi flouresensi
atau phosphoresensi, dan indeks refraksi tidak berpengaruh terhadap konsentrasi,
jadi larutan harus pekat (tidak encer).
Beberapa larutan seperti larutan
Timbal (Pb2+) dalam air tidak berwarna, supaya timbul earna larutan Pb
diekstraksi dengan dithizone sehinggaberubah menjadi berwarna merah. Larutan
berwarna merah akan menyerap radiasi pada daerah hijau. Dalam hal ini larutan
Pb menunjukkan absorbans maksimum pada panjang gelombang 515 nm.
a. Jenis-jenis
Spektrofotometri
Spektrofotometri terdiri dari
beberapa jenis berdasarkan sumber cahaya yang digunakan. Diantaranya
adalah sebagai berikut :
1) Spektrofotometri
Vis (Visible)
Pada
spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber sinar/energy dalah cahaya
tampak (Visible). Cahaya visible termasuk spectrum elektromagnetik yang dapat
ditangkap oleh mata manusia. Panjang gelombang sinar tampak adalah 380-750 nm.
Sehingga semua sinar yang dapat dilihat oleh mata manusia, maka sinar tersebut
termasuk kedalam sinar tampak (Visible).
2) Spektrofotometri
UV (Ultra Violet)
Berbeda
dengan spektrofotometri Visible, pada spektrofometri UV berdasarkan interaksi
sampel dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai
sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium. Deuterium disebut juga heavy
hydrogen. Dia merupakan isotop hydrogen yang stabil tang terdapat berlimpah
dilaut dan didaratan.Karena sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata manusia
maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang
tidak memiliki warna. Bening dan transparan.
3) Spektrofotometri
UV-Vis
Spektrofotometri
ini merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan Visible. Menggunakan dua
buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya visible.
Meskipun untuk alat yang lebih canggih sudah menggunakan hanya satu sumber
sinar sebagai sumber UV dan Vis, yaitu photodiode yang dilengkapi dengan
monokromator.Untuk sistem spektrofotometri, UV-Vis paling banyak tersedia dan
paling populer digunakan. Kemudahan metode ini adalah dapat digunakan baik
untuk sample berwarna juga untuk sample tak berwarna. Spektroskopi
ultraviolet-visible atau spektrofotometri ultraviolet-visible (UV-Vis atau UV /
Vis) melibatkan spektroskopi dari foton dalam daerah UV-terlihat. Ini
berarti menggunakan cahaya dalam terlihat dan berdekatan (dekat ultraviolet
(UV) dan dekat dengan inframerah (NIR)) kisaran. Penyerapan dalam rentang
yang terlihat secara langsung mempengaruhi warna bahan kimia yang terlibat.
Di wilayah ini dari spektrum elektromagnetik, molekul mengalami transisi
elektronik. Teknik ini melengkapi fluoresensi spektroskopi, di fluoresensi
berkaitan dengan transisi dari ground state ke eksited state. Penyerapan
sinar uv dan sinar tampak oleh molekul, melalui 3 proses yaitu :
a)
Penyerapan oleh transisi electron
ikatan dan electron anti ikatan.
b)
Penyerapan oleh transisi electron d
dan f dari molekul kompleks.
c)
Penyerapan oleh perpindahan
muatan.
Interaksi antara energy cahaya dan
molekul dapat digambarkan sbb :E = hv
Dimana :
E = energy (joule/second)
h = tetapan plank
v = frekuensi foton
E = energy (joule/second)
h = tetapan plank
v = frekuensi foton
4)
Spektrofotometri IR (Infra Red)
Spektrofotometri
ini berdasar kepada penyerapan panjang gelombang Inframerah. Cahaya Inframerah,
terbagi menjadi inframerah dekat, pertengahan dan jauh. Inframerah pada
spektrofotometri adalah adalah inframerah jauh dan pertengahan yang mempunyai
panjang gelombang 2.5-1000 mikrometer. Hasil analisa biasanya berupa
signalkromatogram hubungan intensitas IR terhadap panjang gelombang. Untuk
identifikasi, signal sampel akan dibandingkan dengan signal standard.
2.
KOLORIMETRI
Kolorimetri adalah suatu metoda
analisis kimia yang didasarkan pada tercapainya kesamaan warna antara larutan
sampel dan larutan standar, dengan menggunakan sumber cahaya polikromatis
dengan detektor mata.
Persyaratan larutan yang harus
dipenuhi untuk absorbsi sinar tampak adalah larutan harus berwarna. Oleh karena
itu metoda spektroskopi sinar tampak disebut juga dengan metoda kolorimetri dan
alatnya disebut dengan kolorimeter. Kolorimeter didasarkan pada perubahan warna
larutan yang sebanding dengan perubahan konsentrasi komponen pembentuk larutan.
Oleh karena itu aspek kuantitatif merupakan tujuan pengukuran dengan metoda
ini. Contohnya adalah larutan nitrit dibuat berwarna dengan pereaksi
sulfanila-mida dan N-(1-naftil)-etilendiamin. Prinsip dasar dari metoda
kolorimetri visual adalah tercapainya kesamaan warna bila jumlah molekul
penyerap yang dilewati sinar pada ke dua sisi larutan persis sama. Metoda ini
dapat diterapkan untuk penentuan komponen zat warna ataupun komponen yang belum
bewarna, namun dengan menggunakan reagen pewarna yang sesuai dapat menghasilkan
senyawa bewarna yang merupakan fungsi dari kandungan komponennya. Jika telah
tercapai kesamaan warna berarti jumlah molekul zat penyerap yang dilewati sinar
pada kedua sisi tersebut telah sama dan ini dijadikan dasar perhitungan.
Syarat pewarnaan ini antara lain :
1.
Warna yang terbentuk harus stabil.
2.
Reaksi pewarnaan harus selektif.
3.
Larutan harus transparan.
4.
Kesensitifannya tinggi.
5.
Ketepatan ulang tinggi.
6.
Warna yang terbentuk harus merupakan
fungsi dari konsentrasi.
Cara analisis ini merupakan bahwa
tua atau mudanya suatu warna larutan zat atau senyawaan tergantung pada
kepekatannya. Dalam visual kolorimetri biasanya dipakai cahaya putih dari
matahari atau cahaya lampu biasa dan biasanya dipakai alat-alat pembanding yang
sederhana yang disebut dengan color comparator atau pembanding warna. Bila
sebagai pengganti ketajaman mata kita diganti dengan suatu photoelectric
detektor maka alat itu disebut kolorimeter photoelectric.
Metoda kolorimetri terbagi atas 2
bagian yaitu :
1.
Metoda kolorimetri visual :
Menggunakan mata sebagai detektornya.
2.
Metoda fotometri : Menggunakan
fotosel sebagai detektornya.
Dosen :
Khiki Purnawati Kasim. SST., M.Kes
Tingkat/Semester :
II/4(Ganjil)
Parameter : Pemeriksaan Arsen (Ar) Dan Timbal (Pb) Pada
Makanan
HASIL
A.
Pukis
1,468/1000/mg/l
1,468
x 5 = 7,34 mg/l
Jadi,
hasil yang diperoleh dari pemeriksaan kadar timbal (pb) pada kue pukis
banta-bantaeng, yaitu 7,34 mg/l.
B.
Udang
Dari
hasil yang diperoleh dari pemeriksaan kadar timbal (pb) pada kue pukis
banta-bantaeng, yaitu 0 mg/l.
ANALISA HASIL
Berdasarkan
hasil yang diperoleh, kami dapat menganalisa hasilnya, yaitu ke dua sampel
masing-masing harus di timbang sebanyak 10 ml, kemudian ke dua sampel di
haluskan dengan lumpang dan alu dan masing-masing ditambahkan aquadest sebanyak
50ml. Tuangkan sedikit demi sedikit ke dalam masing-masing sampel hingga
aquadest dan sampelnya tercampur rata, setelah tercampur rata, masukkan
masing-masing sampel tersebut ke dalam gelas ukur 80 ml hingga mencapai garis
50 ml, kemudian pindahkan lagi ke dalam gelas sampel 10 ml hingga mencapai
garis 5 ml.
Masukkan
cairan reagen pada sampel pukis sebanyak 3 tetes, cairan reagen digunakan untuk
mengetahui kadar timbal pada sampel. Masukkan sampel kue pukis kedalam kuvet,
pastikan kuvet tersebut kering agar pb yang berasal dari tangan kita tidak ikut
terdeteksi dan hasilnya juga akurat, setelah itu masukkan ke dalam spectroquant
untuk mengukur timbal pada kue pukis, tunggu sampai hasilnya muncul dan tulis.
Setelah
pemeriksaan timbal pada kue pukis, selanjut kita akan melanjutkan pemeriksaan
arsen pada udang, sampel udang yang telah halus kita masukkan ke dalam botol
arsenic test dan tambahkan AS1 dan AS2 sebanyak 1 ml lalu homogenkan, setelah
dihomogenkan masukkan kertas arsenic tes ke dalam botol, tapi tidak sampai
menyentuh sampel dan biarkan kertas sedikit keluar pada ujung botol, tunggu
hingga 20 menit, setelah hasil keluar kita tulis.
KESIMPULAN
Berdasarkan dari
hasil dan analisa hasil di atas, kami mendapatkan sebanyak 7,34 mg/l timbal(pb)
pada kue pukis, menurut SNI 7387:2009 kue pukis tidak memenuhi standar batas
maksimum cemaran timbal (pb) dalam pangan, karna batas maksimumnya, yaitu 0,5
mg/l, sedangkan hasil arsen (Ar) pada udang, yaitu 0 mg/l dan itu memenuhi
batas maksimum cemaran arsen (Ar) dalam pangan, karna batas maksimumnya, yaitu
1,0 mg/l.
DAFTAR
PUSTAKA
http://organiksmakma3b30.blogspot.co.id/2013/04/kolorimetri.html
(diakses, 05 April 2017)
http://organiksmakma3b30.blogspot.co.id/2013/04/spektrofotometri.html
(diakses, 05 April 2017)
http://seulanga23.blogspot.co.id/2013/12/makalah-logam-timbal-pb.html
(diakses, 04 April 2017)
http://tralalaikrima.blogspot.co.id/2012/04/makalah-toksikologi-arsen-as.html
(diakses, 04 April 2017)
http://karyatulisilmiah.com/deskripsi-pengertian-logam-berat/ ( Diakses,
04 April 2017 )
Terbaik memang ketum LDK keren laporannya bisa dijadikan referensi untuk saya dan pembaca kedepannya...
BalasHapusGood luck😀😀
Laporannya keren, tingkatkan!!!:)
BalasHapusmantap....tingkatkan !!
BalasHapusKeren....,tpi Mau tanya berapa standar batas maksimum cemaran timbal dan arsen menurut SNI yg dijadikan acuan ?
BalasHapusMenurut SNI 7387 :2009 Batas maksimum cemaran timbal ( Pb ) dalam pangan 0,5 mg /l Sedangkan batas.maksimum cemaran arsen ( Ar ) pada pangan adalan 1,0 mg/l
HapusLaporannya bagus tp lebih bagus kalau dilengkapi dengan gambar
BalasHapusKereeenn ttp lanjutkan sebagai bahan referensi
BalasHapuskurang gambar, tapi sudah bagus
BalasHapusLaporannya sudah bagus tapi kurang gambar semoga bermanfaat untuk teman teman semuanya
BalasHapusLaporannya sudah bagus tapi kurang gambar semoga bermanfaat untuk teman teman semuanya
BalasHapusLaporannya sudah bagus tapi kurang gambar semoga bermanfaat untuk teman teman semuanya
BalasHapussemoga jadi referensi untuk semua yang melihatnya.
BalasHapusLaporannya bagus tingkatkan yah
BalasHapusSangat bermanfaat , good job 👍
BalasHapusMantapzzzz tingkatkan terus yeahhh
BalasHapusAssalamualaikum Muammar, setelah membaca laporan ini. Saya ingin bertanya, hal apa yang menyebabkan sehingga sampel pukis dapat mengandung timbal ?
BalasHapusSyukron :)
walaikumsalam. Hal yg dpt mengakibatkan adanya timbal pada sampel pukis tersebut diakibatkan karena pukis tersebut dilakukan pembakaran sehingga scra tdk langsung ada unsur timbal pada proses pembakaran tersebut... Afwan jiddan bila jawabannya krng memuaskan
BalasHapusAfwan baru balas comentnya soalnya bru cek blog
BalasHapusmantap (coy)
BalasHapusLaporan sudah cukup lengkap,sebaiknya perhatikan eyd pada kesimpulan (Ex:karna=karena),batas cemaran dalam pangan untuk jenis apa?untuk pukis.Analisa hasil sebaiknya bukan cara kerja yg dianalisa tetapi dihubungkan antara hasil yg di dpt dengan dasar teori yg ada,sehingga terjawab kenapa memenuhi syarat atau sebaliknya.Faktor lingkungan yg mana yg menunjang.
BalasHapus